Kring ….
Kring ….
Kring ….
S |
uara alarm yang membangunkan dari mimpi indahku bersama pangeran idamanku. “Dasar kau keong racun !” ucapku sembari mematikan alarm. Lalu dengan langkah berat, aku melangkah ke kamar mandi dengan mata terpejam dan tiba-tiba DUUAAAAAKKK ….. “Arrrghhh~ dasar pintu sialan, mengapa kau cium jidatku yang sudah maju?! Oh GOD.” Dan aku berlari menuruni anak tangga satu-persatu menuju ruang makan.
Namaku Iria. Hari ini adalah hari pertamaku masuk SMA. Uhhh.. Setelah sekian lama aku memakai seragam putih biru dan dipadu padankan dengan dua ekor kuda di samping telinga kanan dan kiriku. Akhirnya tiba saatnya aku menggunakan seragam baruku berwarna abu-abu. Dan aku siap untuk berangkat sekolah. Tentunya dengan semangat baru.
Seusai sarapan, aku pun berangkat ke sekolah diantarkan sopir yang selalu setia mengantarkanku. Setibanya aku di sekolah, aku turun dari mobilku berwarna pink keungu-unguan. Dan betapa kagumnya aku akan kemegahan SMAK Harapan. Woww, sungguh sangat beruntung aku bisa bersekolah di tempat ini. Aku berjalan selangkah demi selangkah dengan sepatu kulit hitamku. Saat aku berjalan mundur, tanpa sadar GUBRaaaaAAkkkKK~
***
Aku terbangun dari ranjang sempit tempatku berbaring. Kepalaku terasa pening. Rambutku berantakan. Sepertinya tadi aku menabrak sesuatu. Tapi apa? Aku berusaha mengingat-ngingat satu persatu kejadian secara detail.
“Tuhan, aku dimana? Apa yang terjadi? Apa aku di surga? Oh tidak-tidak, surga tak seperti ini.” pikirku.
Tiba-tiba seorang cowok yang tinggi semampai dan rambutnya ala Cristiano Ronaldo, kapten tim sepakbola Portugal muncul di hadapanku sambil membawa segelas air putih di tangannya. Oww.. Berasa aku ada di lapangan hijau. Lamunanku buyar saat cowok itu menegurku. “Syukur deh kamu sudah sadar. Sorry ya tadi aku gak sengaja nabrak kamu. Sekarang kamu lagi UKS” jawab cowok itu sembari menyodorkan gelas air putih itu padaku.
“Ahh.. Ternyata dia bukan Cristiano Ronaldo” pikirku. Lalu, aku serobot gelas itu dari tangannya dan langsung meneguknya. Aku teringat akan kejadian tadi.
“Hello… Kamu denger aku gak sih?” cowok itu melambai-lambaikan tangannya di wajahku.
“Iya iya, aku denger. Terus kamu cuma bilang sorry doank?” jawabku ketus pada cowok yang tak ku kenal itu.
“Hei girl, ini bukan cuma salah aku aja! Tapi, juga salah kamu. Kalo jalan itu jangan mundur donk, masih mending kalo kamu punya spion kan gak bakal nabrak”. cowok itu pergi gitu aja dengan wajah yang penuh emosi.
“Dasar sombong! Aku harap semoga hari ini cepat berakhir.”
***
Hari ini hari keduaku masuk sekolah. Ku coba mengecek daftar kegiatanku hari ini di buku agendaku yang berwarna pink dengan sedikit hiasan lucu di sampingnya. Ow, ternyata hari ini pembagian kelas dan perkenalan guru baru. Aku pun masuk kelas yang sudah ditentukan oleh panitia. Betapa kagetnya aku, karena aku satu kelas dengan cowok yang menabrakku kemarin. Dan satu lagi yang membuatku sangat kaget, karena aku juga satu kelas dengan Mikie, cinta pertamaku waktu di bangku SMP. Gayanya masih seperti dulu, tidak ada yang berubah darinya. “Oww… Thank GOD, Engkau memang sangat baik”
Hari demi hari telah aku lewati di SMAK Harapan. Namun bagiku, sekolah ini masih terasa asing. Mungkin karena aku jarang untuk berkeliling sekolah dan bergaul. Dan kuputuskan untuk mulai memperluas pertemananku. Akupun mengunjungi perpustakaan, karena aku yakin pasti Mikie ada di sana. Dan ternyata dugaanku benar. Mikie sedang asyik membaca buku, dan aku pun mencoba untuk mendekatinya.
“Mmm… Hai Mikie?” aku bertanya sambil memasang senyum manis dan kedua lesung pipiku.
“Hai juga” jawabnya. Dan dia pun terus melanjutkan membaca buku.
“Boleh aku duduk di sini?”
“Tentu” jawabnya sambil tak menghiraukanku.
Suasana pun menjadi beku hingga bel masuk pun berbunyi, serasa aku berada di kutub selatan.
***
Waktu berselang. Dan aku pun menyadari bahwa Mikie berbeda dengan Mikie yang dulu. Sekarang dia lebih pendiam dan tidak senang bergaul. Namun terlepas dari Mikie, Leo orang yang selalu bikin masalah sama aku pun juga telah berubah. Dia udah gak pernah lagi gangguin aku dan bahkan sedikit demi sedikit dia menjauh dariku. Aku merasa ada sesuatu yang aneh yang mengganjal hatiku. Tapi, aku masih belum mengerti apa itu.
Pagi ini, aku bersiap-siap untuk mengawali hariku di sekolah. Tetap dengan gayaku yang girly dan tak lupa dengan semangat yang membara. Karena hari ini adalah mata pelajaran yang aku suka, tentu saja Bahasa Indonesia. Dan sepulang sekolah ada kerja kelompok berdua bareng dengan Mikie. AssssSsyiiiiiiiiiiiiiiikkKK~
Sepulang sekolah aku menunggu Mikie di depan sekolah. Namun sampai 15 menit lebih aku menunggunya, tapi dia yang tidak muncul-muncul dari tadi. Dan kuputuskan untuk mencarinya.
Namun hasil pencarianku nihil. Hingga akhirnya aku menemukan dia di belakang sekolah dengan seorang cewek dan aku pun mendekatinya. Dan ternyata, tak lain dan tak bukan cewek itu adalah Shia, cewek yang terkenal cantik dan terbilang populer di sekolah. Tapi aku tak tau apa yang mereka bicarakan. Sepertinya mereka sedang berantem. Karena rasa penasaranku sangat besar, aku pun terus berjalan mendekati mereka. Dan akhirnya Mikie menegurku.
“Ra, kamu ngapain disini?” tanya Mikie yang heran melihatku.
“Ma..ma…maaf Mik, a..aku gak denger apa-apa kok. Sumpah!” jawabku dengan terbata-bata.
“Aku gak ada nuduh gitu kan? Aku cuma nanyak, kamu ngapain disini?” Mikie terus mendesakku.
“Tadi aku lagi nyari kamu, terus malah ketemu kamu disini.”
“Mmm.. Maaf ya Ra, aku udah buat kamu nunggu lama. Tapi hari ini aku lagi gak bisa kerja kelompok.” Mikie mengulurkan tangannya sebagai tanda maaf.
“Oh iya gak kenapa kok” aku menjawabnya dengan nada lemah.
Akhirnya Mikie pun meninggalkan aku sendiri tanpa menghiraukan perasaanku. Aku sangat kecewa dengan sikapnya yang terlalu dingin padaku.
Aku pun pergi ke taman untuk melupakan rasa kecewaku pada Mikie. Tapi, tanpa kusadari air mataku menetes untuknya. Dan aku pun bertanya pada hati kecilku. “Kenapa Mikie semakin lama semakin menjauh dariku? Dan kenapa pula Leo juga ikut menjauh dariku? Salahku apa?” pikirku dalam-dalam. Tanpa sadar ada seorang yang menyodorkan saputangan padaku. Dan ternyata itu Leo, seseorang yang telah kuanggap menjauh dariku.
“Thanks yah…” aku mengambil saputangan bermotif kotak-kotak berwarna biru di tangannya.
“Kamu kenapa Ra, kok nangis?” tanya Leo sambil duduk di sampingku.
Aku terdiam. Tak sepatah kata pun yang keluar dari bibirku.
“Aku tau kamu pasti sedih karena Mikie jadian sama Shia” Leo menatap kornea mataku.
“APA??” tiba-tiba aku berdiri dan berteriak.
“Jadi kamu gak tau? Maaf ya Ra”
“Ok fine” kata ku dan aku pun duduk kembali.
“Mmmm.. Kamu suka sama Mikie ya?” Leo ragu menanyakan ini, tapi ia sangat penasaran.
“Sok tau kamu” jawabku dengan salah tingkah.
“Kamu gak usah bohong deh sama aku. Aku sering merhatiin kamu kalo kamu sering ngeliatin dia. Jujur aja deh.”
“Kalo iya kenapa? Dia juga gak akan tau perasaanku yang aku pendam selama ini.” Makin deras air mataku. Aku tak sanggup menahan air mata ini.
Hari semakin senja. Matahari mulai menenggelamkan sinarnya perlahan. Menandakan bahwa tugasnya telah berakhir. Aku putuskan untuk pulang dan mandi. Aku ingin segera tidur dan melupakan kejadian yang membuat batinku tersiksa.
***
Matahari mulai tersenyum dengan sinarnya yang terang, seakan ingin menyemangati hariku ini. Sedikit demi sedikit matahari mulai naik dan menampakkan senyum manisnya. Pertanda hari sudah pagi dan saatnya pula aku harus bersemangat berangkat ke sekolah. Tapi batinku merasa lain. Rasanya aku sudah tak punya gairah lagi, mengingat kejadian kemarin begitu menyakitkan dan susah tuk dilupakan. Namun aku paksakan untuk masuk sekolah karena aku harus menghadapi ulangan matematika.
Setibanya aku di kelas, aku merasa aneh. Bagaimana tidak, karena sampai ulangan berlangsung, Mikie tak kunjung datang. Apa terjadi sesuatu dengannya? Aku coba tuk menghubunginya dengan handphoneku yang warnanya sedikit nyentrik. Mencari-cari nomer ponselnya satu-persatu. “Eh, nyambung !” aku bersorak.
Tutt …
Tutt …
Sudah berapa banyak deringan yang aku dengar. Sayang, tak ada jawaban darinya. Aku mulai panik. Tak ada satu pun teman-temanku yang mengetahui keberadaannya. Hingga akhirnya aku mulai menyerah dalam keadaan.
Sore hari, aku duduk di depan terasku yang penuh dengan berbagai tanaman dan bunga-bunga yang cantik di sekelilingku. Ditambah dengan angin yang sepoi-sepoi. Sejenak melupakan rutinitasku di sekolah. Tapi tiba-tiba ponselku bordering.
“Iria?” sapa orang dari kejauhan.
“Mmm… Leo ya? Kamu ganggu aku aja deh.”
“Ra, aku mau ngasi kabar kalau sekarang Mikie lagi ada di ruang ICU” tak sempat aku melanjutkan pembicaraanku dengan Leo. Aku buru-buru mematikan ponselku dan segera ke rumah sakit.
Setibanya aku di rumah sakit, aku melihat ibu Mikie yang sedang sedih. Aku cepat-cepat menghampirinya.
“Tante…” tanyaku dengan nafas terputus-putus.
“Iria.. Mi..Mikie telah tiada” aku memeluk ibu Mikie yang sedang menangis.
Bagai di sambar petir mendengar ucapan tante Sefi bahwa Mikie meninggal dan pada akhir nafasnya aku belum sempat bertemu dengannya. Aku bahkan belum mengatakan perasaanku pada Mikie. Hatiku terasa sesak dan air mataku mengalir deras di pipiku. Namun aku sadar, orang yang paling terpukul adalah Shia, yang ada saat Mikie menghembuskan nafas terakhirnya.
***
Beberapa hari setelah pemakaman Mikie, aku menghampiri Shia yang sedang duduk termenung. Entah apa yang ia pikirkan. Mungkin Shia terlalu memikirkan Mikie.
“Shia…” aku menghampiri dan menyapanya.
“Ada apa Ra?” Shia menoleh ke padaku dengan wajah pucat yang sepertinya menyiksa batin Shia.
“Mmm.. Aku harap kamu tabah ya dalam menghadapi semua ini. Aku tau perasaan kamu yang lagi sedih kehilangan orang yang kamu cintai” ucapku sambil menyentuh pundaknya.
Shia pun tersenyum sinis padaku.
“Kamu benar, aku memang sangat terpukul karena aku kehilangan orang yang sangat aku cintai. Tapi sayang, dia sama sekali gak cinta sedikit pun sama aku.”
“Maksud kamu apa Sa?” tanyaku dengan penuh rasa penasaran.
“Ra, jujur selama ini Mikie sayang sama kamu. Dia jadian sama aku karena dia cuma pengen buat kamu cemburu” aku gak percaya dengan apa yang dikatakan Shia.
“Shia, kamu bohong ya? Kalau kenyataannya kayak gitu, kenapa dia gak bilang sama aku.”
“Itu karena dia kira kamu suka sama Leo, yang jelas-jelas dia selalu merhatiin kamu. Jadi dia putusin buat nutupin semua perasaannya sama kamu, sampai akhirnya dia pergi selamanya karena penyakit kanker yang sudah lama dideritanya. Sebelum akhir hidupnya, dia sempat bilang ke aku buat nyampein ke kamu. Dia akan bahagia liat kamu sama Leo jadian.”
Hatiku rasanya hancur berkeping-keping setelah denger semua apa yang di bilang sama Shia. Aku gak tau harus bilang apa. Aku bingung. Aku tak tau perasaanku, senang atau sedih. Tapi aku tau, semua ini gak boleh aku sesali. Sekalipun Mikie udah gak ada, tapi bukan berarti hidupku sampai disini. Aku akan coba buat ngejalanin yang Mikie sampein ke aku.
***
Tak terasa setahun pun berlalu setelah kematian Mikie. Dan Shia pun sudah menemukan seseorang yang menyayangi dia. Begitu pun dengan aku.
Hari ini, aku dan Leo berencana untuk mendatangi makam Mikie.
“Mik, kamu masih ingat aku?” aku meneteskan air mata dan mencoba untuk tersenyum sambil mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh mengelilingi pemakaman Mikie.
“Aku harap kamu tenang di surga sana. Aku akan selalu mengenangmu yang pernah menjadi bagian dalam hidupku.”
Dan akhirnya, Iria pun hidup bahagia bersama Leo, seperti yang di harapkan Mikie sebelum ia menutup mata untuk selama-lamanya.
*TAMAT*
cerita awal : Ekawati
editor alur : Debby
editor naskah : Desak
@ Bahasa Indonesia X e /2010
SMAK Harapan
0 komentar:
Posting Komentar