Menguak Kasih Sayang


Menyeruput kopi memang enak. Tapi gamang rasanya jika kopi tanpa gula. Menikmati sejumput saja pasti rasanya pahit. Begitu pula dengan komunikasi dan kasih sayang. Komunikasi hambar rasanya tanpa kasih sayang. Kasih sayang pun serasa “ngambang” karena tak terwujud dalam komunikasi. Sontak komunikasi yang baik akan berjalan dengan baik pula jika kasih sayang menyertainya.
Komunikasi adalah jembatan penghubung antara orang satu dengan orang yang lain. Komunikasi penting dalam lingkup sekolah, khususnya di SMAK Harapan, baik itu antar siswa, guru, pegawai, dan lingkungan. Adanya sebuah komunikasi yang baik akan lebih mempermudah dalam mencapai suatu tujuan bersama. Bagi para siswa, komunikasi bisa berjalan dengan memperluas pertemanan. Hendaknya janganlah ragu untuk lebih mengenal orang lain, meski bukan dari kelas yang sama. Memperbanyak teman bukanlah suatu kesalahan yang perlu diperdebatkan, melainkan dapat memperluas komunikasi dan hubungan pertemanan dengan banyak orang. Saling bertegur sapa, misalnya. Murah, mudah, dan efisien. Kata orang bijak, sambil menyelam, minum air. Komunikasi juga bermanfaat untuk saling mengenal dan mengembangkan kepribadian. Bagi sebagian siswa yang malu untuk mengekspresikan diri, komunikasi bisa dijadikan alternatif dalam mengasah keberanian untuk berani berbicara dan mengenal pribadi banyak orang. Tak ayal, komunikasi juga bisa berjalan antara siswa dan guru. Mengucapkan salam saat berpapasan dengan guru ialah hal yang sangat sederhana. Meski sederhana, dampaknya  bagi kita adalah untuk memupuk komunikasi dan sopan santun.
            Kasih sayang juga tak kalah penting. Dari kacamata biasa, kasih sayang nampaknya sepele. Namun jika dipupuk dengan baik dapat menciptakan kedamaian dan ketentraman. Tak akan ada lagi tuh yang namanya cekcok antar warga sekolah jika kasih sayang ikut memberkati kehidupan kita dalam berkomunikasi. Komunikasi yang keruan dan tak sopan sebenarnya sangatlah lancang. Sebagai manusia yang mengaku-ngaku berintelek, haruslah saling menghargai dan tidak saling merendahkan. Rugi hanya otak yang pintar, tapi mulut masih saja bodoh. Seperti payung yang melindungi seseorang dari hujan. Begitulah peran kasih sayang sebagai pelindung dari adanya kesalahpahaman.
            Mungkin diantara sebagian siswa merasa takut dan tidak penting melakukan komunikasi dengan siswa yang sudah terlanjur di cap sebagai trouble maker. Sebenarnya siswa yang di cap troule maker juga memerlukan kasih sayang. Tapi kurangnya perhatian dari lingkungannya, membuat siswa cap trouble maker ini membangkang, seperti kasih sayang yang tak pernah tumbuh dalam hatinya. Ajak mereka berkomunikasi dengan hati yang tulus. Tapi bukan berati kita harus mengikuti tindak-tanduknya. Hendaknya, kita memberikan pencerahan yang baik, tentunya melalui komunikasi yang disertai dengan kasih sayang.
            Dendam dan amarah adalah musuh dari kasih sayang. Malu dan rasa takut adalah musuh dari komunikasi. Sebaliknya, ketulusan dan senyum adalah sahabat dalam berkomunikasi yang berlandaskan kasih sayang. Coba terka! Jika komunikasi hanya berdiri sendiri, apakah rasa kebersamaan dan kehangatan akan terwujud? Tapi saat bertegur sapa dengan senyum yang tulus, apakah kehangatan itu akan lebih terasa? Mengapa? Karena setiap manusia membutuhkan kasih sayang. Hati manusia akan gersang jika tak diselimuti kasih sayang. Kalau saja di lingkungan sekolah kita tidak ada lagi kasih sayang, mungkin saja akan banyak siswa-siswi yang keluar masuk BK. Mungkin saja banyak siswa-siswi yang selalu mengindahkan ucapan guru. Mungkin saja amarah bermuram durja di lingkungan sekolah kita. Kalau begitu, apa jadinya sekolah kita nanti kalau warga sekolahnya saja tidak bisa memupuk kasih sayang? Dendam, dengki, iri, dan benci, hilangkan saja semua! Apa gunanya dendam itu masih dipelihara kalau-kalau nanti momok yang tak kita inginkan itu datang?
            Lantas, bagaimanakah kasih sayang dalam berkomunikasi itu dapat terwujud? Kasih sayang dapat diwujudkan dengan saling menghormati, berusaha saling menciptakan kedamaian, saling menyayangi, menghilangkan rasa benci, tulus dalam berkomunikasi, berbicara yang sopan, dan tidak memandang seseorang dari statusnya ataupun dari mana ia berasal. Jikalau salah satu teman kita tidak memiliki warna kulit yang sama dan bukan berasal dari daerah yang sama dengan kita, janganlah sekali-kali merendahkan ataupun membeda-bedakannyanya. Komunikasi yang berlandaskan kasih sayang juga dapat berjalan dengan baik, meski adanya perbedaan. Pokoknya, kasih sayang untuk saling menghargai dalam berkomunikasi itu sangatlah penting. Kasih sayang bisa saja merobek segala perbedaan yang ada, jikalau hati kita masih punya kasih sayang.
            Sebagai individu yang hidup bersama dengan banyak individu dalam suatu lingkup sekolah, komunikasi itu tak dapat dikindahkan. Yang terpenting, pupuklah komunikasi dengan banyak individu lain. Jangan pernah membatasi komunikasi dengan banyak orang. Jangan takut mengenal banyak pribadi di lingkungan sekitar kita. Dan ingat, komunikasi yang baik akan berjalan baik pula jika kasih sayang ikut bergumul didalamnya. Mulai sekarang, mari kita belajar mendaur ulang komunikasi dan kasih sayang yang dibilang “sepele” itu.

By : Desak Kurni
@Gema Harapan ed. Mei 2011

0 komentar:

Posting Komentar