Menguak Kasih Sayang


Menyeruput kopi memang enak. Tapi gamang rasanya jika kopi tanpa gula. Menikmati sejumput saja pasti rasanya pahit. Begitu pula dengan komunikasi dan kasih sayang. Komunikasi hambar rasanya tanpa kasih sayang. Kasih sayang pun serasa “ngambang” karena tak terwujud dalam komunikasi. Sontak komunikasi yang baik akan berjalan dengan baik pula jika kasih sayang menyertainya.
Komunikasi adalah jembatan penghubung antara orang satu dengan orang yang lain. Komunikasi penting dalam lingkup sekolah, khususnya di SMAK Harapan, baik itu antar siswa, guru, pegawai, dan lingkungan. Adanya sebuah komunikasi yang baik akan lebih mempermudah dalam mencapai suatu tujuan bersama. Bagi para siswa, komunikasi bisa berjalan dengan memperluas pertemanan. Hendaknya janganlah ragu untuk lebih mengenal orang lain, meski bukan dari kelas yang sama. Memperbanyak teman bukanlah suatu kesalahan yang perlu diperdebatkan, melainkan dapat memperluas komunikasi dan hubungan pertemanan dengan banyak orang. Saling bertegur sapa, misalnya. Murah, mudah, dan efisien. Kata orang bijak, sambil menyelam, minum air. Komunikasi juga bermanfaat untuk saling mengenal dan mengembangkan kepribadian. Bagi sebagian siswa yang malu untuk mengekspresikan diri, komunikasi bisa dijadikan alternatif dalam mengasah keberanian untuk berani berbicara dan mengenal pribadi banyak orang. Tak ayal, komunikasi juga bisa berjalan antara siswa dan guru. Mengucapkan salam saat berpapasan dengan guru ialah hal yang sangat sederhana. Meski sederhana, dampaknya  bagi kita adalah untuk memupuk komunikasi dan sopan santun.
            Kasih sayang juga tak kalah penting. Dari kacamata biasa, kasih sayang nampaknya sepele. Namun jika dipupuk dengan baik dapat menciptakan kedamaian dan ketentraman. Tak akan ada lagi tuh yang namanya cekcok antar warga sekolah jika kasih sayang ikut memberkati kehidupan kita dalam berkomunikasi. Komunikasi yang keruan dan tak sopan sebenarnya sangatlah lancang. Sebagai manusia yang mengaku-ngaku berintelek, haruslah saling menghargai dan tidak saling merendahkan. Rugi hanya otak yang pintar, tapi mulut masih saja bodoh. Seperti payung yang melindungi seseorang dari hujan. Begitulah peran kasih sayang sebagai pelindung dari adanya kesalahpahaman.
            Mungkin diantara sebagian siswa merasa takut dan tidak penting melakukan komunikasi dengan siswa yang sudah terlanjur di cap sebagai trouble maker. Sebenarnya siswa yang di cap troule maker juga memerlukan kasih sayang. Tapi kurangnya perhatian dari lingkungannya, membuat siswa cap trouble maker ini membangkang, seperti kasih sayang yang tak pernah tumbuh dalam hatinya. Ajak mereka berkomunikasi dengan hati yang tulus. Tapi bukan berati kita harus mengikuti tindak-tanduknya. Hendaknya, kita memberikan pencerahan yang baik, tentunya melalui komunikasi yang disertai dengan kasih sayang.
            Dendam dan amarah adalah musuh dari kasih sayang. Malu dan rasa takut adalah musuh dari komunikasi. Sebaliknya, ketulusan dan senyum adalah sahabat dalam berkomunikasi yang berlandaskan kasih sayang. Coba terka! Jika komunikasi hanya berdiri sendiri, apakah rasa kebersamaan dan kehangatan akan terwujud? Tapi saat bertegur sapa dengan senyum yang tulus, apakah kehangatan itu akan lebih terasa? Mengapa? Karena setiap manusia membutuhkan kasih sayang. Hati manusia akan gersang jika tak diselimuti kasih sayang. Kalau saja di lingkungan sekolah kita tidak ada lagi kasih sayang, mungkin saja akan banyak siswa-siswi yang keluar masuk BK. Mungkin saja banyak siswa-siswi yang selalu mengindahkan ucapan guru. Mungkin saja amarah bermuram durja di lingkungan sekolah kita. Kalau begitu, apa jadinya sekolah kita nanti kalau warga sekolahnya saja tidak bisa memupuk kasih sayang? Dendam, dengki, iri, dan benci, hilangkan saja semua! Apa gunanya dendam itu masih dipelihara kalau-kalau nanti momok yang tak kita inginkan itu datang?
            Lantas, bagaimanakah kasih sayang dalam berkomunikasi itu dapat terwujud? Kasih sayang dapat diwujudkan dengan saling menghormati, berusaha saling menciptakan kedamaian, saling menyayangi, menghilangkan rasa benci, tulus dalam berkomunikasi, berbicara yang sopan, dan tidak memandang seseorang dari statusnya ataupun dari mana ia berasal. Jikalau salah satu teman kita tidak memiliki warna kulit yang sama dan bukan berasal dari daerah yang sama dengan kita, janganlah sekali-kali merendahkan ataupun membeda-bedakannyanya. Komunikasi yang berlandaskan kasih sayang juga dapat berjalan dengan baik, meski adanya perbedaan. Pokoknya, kasih sayang untuk saling menghargai dalam berkomunikasi itu sangatlah penting. Kasih sayang bisa saja merobek segala perbedaan yang ada, jikalau hati kita masih punya kasih sayang.
            Sebagai individu yang hidup bersama dengan banyak individu dalam suatu lingkup sekolah, komunikasi itu tak dapat dikindahkan. Yang terpenting, pupuklah komunikasi dengan banyak individu lain. Jangan pernah membatasi komunikasi dengan banyak orang. Jangan takut mengenal banyak pribadi di lingkungan sekitar kita. Dan ingat, komunikasi yang baik akan berjalan baik pula jika kasih sayang ikut bergumul didalamnya. Mulai sekarang, mari kita belajar mendaur ulang komunikasi dan kasih sayang yang dibilang “sepele” itu.

By : Desak Kurni
@Gema Harapan ed. Mei 2011

Surat Merah Jambu untuk Sobat Kecilku

Awal aku berjumpa
Wajahmu tampak pucat
Mengisyaratkan luka hati mendalam
Setapak demi setapak kaki melangkah
Menyentuh hatimu yang terluka

Perlahan tangga aku naiki
Begitu pulalah dengan kehidupan
Kau genggam erat tanganku
Mengarungi dunia
Melewati tetesan haru menghadang

Kau ajak aku mengelilingi bulatan biru ini
Terbang bersama kicauan burung
Tidur di atas putihnya awan
Kala petir bersautan
Kau gapai tanganku dari hebatnya gravitasi

Meski pertengkaran hebat melanda
Meski tangisan terus mengucur
Dan meski kaki tak kuat melangkah
Kau topang aku
Bukan di depan atau belakang, tapi di sampingku


Sedetik, sehari, sebulan, setahun
Hingga satu dasa warsa sudah
Kau menjadi jantung hidupku
Secarik surat merah jambu ini
Hanya untuk sobat kecilku                                               

Tersenyumlah

Sobat,
Pandanglah langit biru bertabur gumpalan putih
Bermandikan hangatnya napas kehidupan
Tak ayal, jangankan langit nan bumi tersenyum
Langkah kecilmu penuh secercah kecerahan

Cinta mampu mati dalam genggaman
Namun cinta tak mati dalam hatimu
Yang selalu menjamah dunia kecilmu
Kami, sobat yang kan berbagi tangis denganmu

Boleh aku memberi tanda tanyaku?
Apa impianmu saat matamu,
bergelayutan dalam dunia mimpi
Entah apa itu, kami akan selalu menyentuh pundakmu
Mengganti hatimu yang tercompang-camping
Oleh gemerlapnya dunia fana

Kau, sobatku...
Percayakan impianmu pada tangan mungilmu
Disitu tersimpan kekuatan unbelievable
Kepakkan jiwa mudamu
 Tersenyumlah dalam rintik tangis hujan

By : Desak Kurnia
@Gema Harapan ed. Mei 2011

Kala Senja Menjemput

Rupa surya menggantung
Lelah dalam permainan waktu
Amukan sinarnya panas menyengat
Berganti hangat dan melemah
Di hujani semerbak jingga

Hamparan laut membentang bebas
Bersenda gurau dengan ombak damai
Bermain dengan semilir angin sejuk
Tidur dalam gurauan burung camar
Bernyanyi pulang ke peraduannya

Lalu lalang berseru kian kemari
Klakson-klakson menjalankan tugasnya
Berteriak mendorong siapapun yang menghalaunya
Keramaian menghuni setiap sudut
Sunyi tak tersapa dalam kota

Bercorat-coret warna merah
Dalam langit biru bermandikan mentari
Tuk siap berganti muka
Hitam pekat...
Berteman dengan senandung trembulan
By : Desak Kurnia
@Gema Harapan ed. Mei 2011

Menatap Langit

Surya di ufuk timur mulai mengucapkan selamat tinggal
Menenggelamkan tubuhnya perlahan
Senyumnya hilang berbarengan dengan datangnya sang rembulan
Dia sangat jauh di luar bulatan biru tempatku berpijak
Dia bak tersenyum kepada khalayak ramai
Dengan sinarnya yang dia pinta dari sang surya
Kebahagiaannya tak pernah sepi
Karena dia tak berpijak sendiri dalam kegelapan
Dia ditemani  bintang-bintang kerlap kerlip nan cantik
Tapi …
Aku selalu disini
Duduk di trotoar lapuk nan bau dengan wajah pucat
Aku memang tak selalu sendiri
Disini banyak khalayak ramai yang berlalu lalang
Tapi mereka hanyalah robot bisu tanpa hati
Dengan suara memelas “minta… minta… minta…”
Aku ingin seperti mereka yang duduk di kursi empuk
Tapi kapan?
Aku hamba Tuhan yang hanya bisa menatap langit

My Best Friend My Love

Kring ….
Kring ….
Kring ….

  S
uara alarm yang membangunkan dari mimpi indahku bersama pangeran idamanku. “Dasar kau keong racun !” ucapku sembari mematikan alarm. Lalu dengan langkah berat, aku melangkah ke kamar mandi dengan mata terpejam dan tiba-tiba DUUAAAAAKKK ….. “Arrrghhh~ dasar pintu sialan, mengapa kau cium jidatku yang sudah maju?! Oh GOD.” Dan aku berlari menuruni anak tangga satu-persatu menuju ruang makan.
          Namaku Iria. Hari ini adalah hari pertamaku masuk SMA. Uhhh.. Setelah sekian lama aku memakai seragam putih biru dan dipadu padankan dengan dua ekor kuda di samping telinga kanan dan kiriku. Akhirnya tiba saatnya aku menggunakan seragam baruku berwarna abu-abu. Dan aku siap untuk berangkat sekolah. Tentunya dengan semangat baru.
          Seusai sarapan, aku pun berangkat ke sekolah diantarkan sopir yang selalu setia mengantarkanku. Setibanya aku di sekolah, aku turun dari mobilku berwarna pink keungu-unguan. Dan betapa kagumnya aku akan kemegahan SMAK Harapan. Woww, sungguh sangat beruntung aku bisa bersekolah di tempat ini. Aku berjalan selangkah demi selangkah dengan sepatu kulit hitamku. Saat aku berjalan mundur, tanpa sadar GUBRaaaaAAkkkKK~

***
Aku terbangun dari ranjang sempit tempatku berbaring. Kepalaku terasa pening. Rambutku berantakan. Sepertinya tadi aku menabrak sesuatu. Tapi apa? Aku berusaha mengingat-ngingat satu persatu kejadian secara detail.
“Tuhan, aku dimana? Apa yang terjadi? Apa aku di surga? Oh tidak-tidak, surga tak seperti ini.” pikirku.
Tiba-tiba seorang cowok yang tinggi semampai dan rambutnya ala Cristiano Ronaldo, kapten tim sepakbola Portugal muncul di hadapanku sambil membawa segelas air putih di tangannya. Oww.. Berasa aku ada di lapangan hijau. Lamunanku buyar saat cowok itu menegurku. “Syukur deh kamu sudah sadar. Sorry ya tadi aku gak sengaja nabrak kamu. Sekarang kamu lagi UKS” jawab cowok itu sembari menyodorkan gelas air putih itu padaku.
“Ahh.. Ternyata dia bukan Cristiano Ronaldo” pikirku. Lalu, aku serobot gelas itu dari tangannya dan langsung meneguknya. Aku teringat akan kejadian tadi.
“Hello… Kamu denger aku gak sih?” cowok itu melambai-lambaikan tangannya di wajahku.
“Iya iya, aku denger. Terus kamu cuma bilang sorry doank?” jawabku ketus pada cowok yang tak ku kenal itu.
“Hei girl, ini bukan cuma salah aku aja! Tapi, juga salah kamu. Kalo jalan itu jangan mundur donk, masih mending kalo kamu punya spion kan gak bakal nabrak”. cowok itu pergi gitu aja dengan wajah yang penuh emosi.
“Dasar sombong! Aku harap semoga hari ini cepat berakhir.”

***
Hari ini hari keduaku masuk sekolah. Ku coba mengecek daftar kegiatanku hari ini di buku agendaku yang berwarna pink dengan sedikit hiasan lucu di sampingnya. Ow, ternyata hari ini pembagian kelas dan perkenalan guru baru. Aku pun masuk kelas yang sudah ditentukan oleh panitia. Betapa kagetnya aku, karena aku satu kelas dengan cowok yang menabrakku kemarin. Dan satu lagi yang membuatku sangat kaget, karena aku juga satu kelas dengan Mikie, cinta pertamaku waktu di bangku SMP. Gayanya masih seperti dulu, tidak ada yang berubah darinya. “Oww… Thank GOD, Engkau memang sangat baik”
Hari demi hari telah aku lewati di SMAK Harapan. Namun bagiku, sekolah ini masih terasa asing. Mungkin karena aku jarang untuk berkeliling sekolah dan bergaul. Dan kuputuskan untuk mulai memperluas pertemananku. Akupun mengunjungi perpustakaan, karena aku yakin pasti Mikie ada di sana. Dan ternyata dugaanku benar. Mikie sedang asyik membaca buku, dan aku pun mencoba untuk mendekatinya.
“Mmm… Hai Mikie?” aku bertanya sambil memasang senyum manis dan kedua lesung pipiku.
“Hai juga” jawabnya. Dan dia pun terus melanjutkan membaca buku.
“Boleh aku duduk di sini?”
“Tentu” jawabnya sambil tak menghiraukanku.
          Suasana pun menjadi beku hingga bel masuk pun berbunyi, serasa aku berada di kutub selatan.

***

          Waktu berselang. Dan aku pun menyadari bahwa Mikie berbeda dengan Mikie yang dulu. Sekarang dia lebih pendiam dan tidak senang bergaul. Namun terlepas dari Mikie, Leo orang yang selalu bikin masalah sama aku pun juga telah berubah. Dia udah gak pernah lagi gangguin aku dan bahkan sedikit demi sedikit dia menjauh dariku. Aku merasa ada sesuatu yang aneh yang mengganjal hatiku. Tapi, aku masih belum mengerti apa itu.
          Pagi ini, aku bersiap-siap untuk mengawali hariku di sekolah. Tetap dengan gayaku yang girly dan tak lupa dengan semangat yang membara. Karena hari ini adalah mata pelajaran yang aku suka, tentu saja Bahasa Indonesia. Dan sepulang sekolah ada kerja kelompok berdua bareng dengan Mikie. AssssSsyiiiiiiiiiiiiiiikkKK~
          Sepulang sekolah aku menunggu Mikie di depan sekolah. Namun sampai 15 menit lebih aku menunggunya, tapi dia yang tidak muncul-muncul dari tadi. Dan kuputuskan untuk mencarinya.
          Namun hasil pencarianku nihil. Hingga akhirnya aku menemukan dia di belakang sekolah dengan seorang cewek dan aku pun mendekatinya. Dan ternyata, tak lain dan tak bukan cewek itu adalah Shia, cewek yang terkenal cantik dan terbilang populer di sekolah. Tapi aku tak tau apa yang mereka bicarakan. Sepertinya mereka sedang berantem. Karena rasa penasaranku sangat besar, aku pun terus berjalan mendekati mereka. Dan akhirnya Mikie menegurku.
          “Ra, kamu ngapain disini?” tanya Mikie yang heran melihatku.
          “Ma..ma…maaf Mik, a..aku gak denger apa-apa kok. Sumpah!” jawabku dengan terbata-bata.
          “Aku gak ada nuduh gitu kan? Aku cuma nanyak, kamu ngapain disini?” Mikie terus mendesakku.
          “Tadi aku lagi nyari kamu, terus malah ketemu kamu disini.”
          “Mmm.. Maaf ya Ra, aku udah buat kamu nunggu lama. Tapi hari ini aku lagi gak bisa kerja kelompok.” Mikie mengulurkan tangannya sebagai tanda maaf.
          “Oh iya gak kenapa kok” aku menjawabnya dengan nada lemah.
          Akhirnya Mikie pun meninggalkan aku sendiri tanpa menghiraukan perasaanku. Aku sangat kecewa dengan sikapnya yang terlalu dingin padaku.
Aku pun pergi ke taman untuk melupakan rasa kecewaku pada Mikie. Tapi, tanpa kusadari air mataku menetes untuknya. Dan aku pun bertanya pada hati kecilku. “Kenapa Mikie semakin lama semakin menjauh dariku? Dan kenapa pula Leo juga ikut menjauh dariku? Salahku apa?” pikirku dalam-dalam. Tanpa sadar ada seorang yang menyodorkan saputangan padaku. Dan ternyata itu  Leo, seseorang yang telah kuanggap menjauh dariku.
Thanks yah…” aku mengambil saputangan bermotif kotak-kotak berwarna biru di tangannya.
“Kamu kenapa Ra, kok nangis?” tanya Leo sambil duduk di sampingku.
Aku terdiam. Tak sepatah kata pun yang keluar dari bibirku.
“Aku tau kamu pasti sedih karena Mikie jadian sama Shia” Leo menatap kornea mataku.
“APA??” tiba-tiba aku berdiri dan berteriak.
“Jadi kamu gak tau? Maaf ya Ra”
“Ok fine” kata ku dan aku pun duduk kembali.
“Mmmm.. Kamu suka sama Mikie ya?” Leo ragu menanyakan ini, tapi ia sangat penasaran.
“Sok tau kamu” jawabku dengan salah tingkah.
“Kamu gak usah bohong deh sama aku. Aku sering merhatiin kamu kalo kamu sering ngeliatin dia. Jujur aja deh.”
“Kalo iya kenapa? Dia juga gak akan tau perasaanku yang aku pendam selama ini.” Makin deras air mataku. Aku tak sanggup menahan air mata ini.
Hari semakin senja. Matahari mulai menenggelamkan sinarnya perlahan. Menandakan bahwa tugasnya telah berakhir. Aku putuskan  untuk pulang dan mandi. Aku ingin segera tidur dan melupakan kejadian yang membuat batinku tersiksa.
***
Matahari mulai tersenyum dengan sinarnya yang terang, seakan ingin menyemangati hariku ini. Sedikit demi sedikit matahari mulai naik dan menampakkan senyum manisnya. Pertanda hari sudah pagi dan saatnya pula aku harus bersemangat berangkat ke sekolah. Tapi batinku merasa lain. Rasanya aku sudah tak punya gairah lagi, mengingat kejadian kemarin begitu menyakitkan dan susah tuk dilupakan. Namun aku paksakan untuk masuk sekolah karena aku harus menghadapi ulangan matematika.
Setibanya aku di kelas, aku merasa aneh. Bagaimana tidak, karena sampai ulangan berlangsung, Mikie tak kunjung datang. Apa terjadi sesuatu dengannya? Aku coba tuk menghubunginya dengan handphoneku yang warnanya sedikit nyentrik. Mencari-cari nomer ponselnya satu-persatu. “Eh, nyambung !” aku bersorak.
Tutt …
Tutt …
Sudah berapa banyak deringan yang aku dengar. Sayang, tak ada jawaban darinya. Aku mulai panik. Tak ada satu pun teman-temanku yang mengetahui keberadaannya. Hingga akhirnya aku mulai menyerah dalam keadaan.
Sore hari, aku duduk di depan terasku yang penuh dengan berbagai tanaman dan bunga-bunga yang cantik di sekelilingku. Ditambah dengan angin yang sepoi-sepoi. Sejenak melupakan rutinitasku di sekolah. Tapi tiba-tiba ponselku bordering.
“Iria?” sapa orang dari kejauhan.
“Mmm… Leo ya? Kamu ganggu aku aja deh.”
“Ra, aku mau ngasi kabar kalau sekarang Mikie lagi ada di ruang ICU” tak sempat aku melanjutkan pembicaraanku dengan Leo. Aku buru-buru mematikan ponselku dan segera ke rumah sakit.
Setibanya aku di rumah sakit, aku melihat ibu Mikie yang sedang sedih. Aku cepat-cepat menghampirinya.
“Tante…” tanyaku dengan nafas terputus-putus.
“Iria.. Mi..Mikie telah tiada” aku memeluk ibu Mikie yang sedang menangis.
Bagai di sambar petir mendengar ucapan tante Sefi bahwa Mikie meninggal dan pada akhir nafasnya aku belum sempat bertemu dengannya. Aku bahkan belum mengatakan perasaanku pada Mikie. Hatiku terasa sesak dan air mataku mengalir deras di pipiku. Namun aku sadar, orang yang paling terpukul adalah Shia, yang ada saat Mikie menghembuskan nafas terakhirnya.

***
Beberapa hari setelah pemakaman Mikie, aku menghampiri Shia yang sedang duduk termenung. Entah apa yang ia pikirkan. Mungkin Shia terlalu memikirkan Mikie.
“Shia…” aku menghampiri dan menyapanya.
“Ada apa Ra?” Shia menoleh ke padaku dengan wajah pucat yang sepertinya menyiksa batin Shia.
“Mmm.. Aku harap kamu tabah ya dalam menghadapi semua ini. Aku tau perasaan kamu yang lagi sedih kehilangan orang yang kamu cintai” ucapku sambil menyentuh pundaknya.
Shia pun tersenyum sinis padaku.
“Kamu benar, aku memang sangat terpukul karena aku kehilangan orang yang sangat aku cintai. Tapi sayang, dia sama sekali gak cinta sedikit pun sama aku.”
“Maksud kamu apa Sa?” tanyaku dengan penuh rasa penasaran.
“Ra, jujur selama ini Mikie sayang sama kamu. Dia jadian sama aku karena dia cuma pengen buat kamu cemburu” aku gak percaya dengan apa yang dikatakan Shia.
“Shia, kamu bohong ya? Kalau kenyataannya kayak gitu, kenapa dia gak bilang sama aku.”
“Itu karena dia kira kamu suka sama Leo, yang jelas-jelas dia selalu merhatiin kamu. Jadi dia putusin buat nutupin semua perasaannya sama kamu, sampai akhirnya dia pergi selamanya karena penyakit kanker yang sudah lama dideritanya. Sebelum akhir hidupnya, dia sempat bilang ke aku buat nyampein ke kamu. Dia akan bahagia liat kamu sama Leo jadian.”
Hatiku rasanya hancur berkeping-keping setelah denger semua apa yang di bilang sama Shia. Aku gak tau harus bilang apa. Aku bingung. Aku tak tau perasaanku, senang atau sedih. Tapi aku tau, semua ini gak boleh aku sesali. Sekalipun Mikie udah gak ada, tapi bukan berarti hidupku sampai disini. Aku akan coba buat ngejalanin yang Mikie sampein ke aku.

***
Tak terasa setahun pun berlalu setelah kematian Mikie. Dan Shia pun sudah menemukan seseorang yang menyayangi dia. Begitu pun dengan aku.
Hari ini, aku dan Leo berencana untuk mendatangi makam Mikie.
“Mik, kamu masih ingat aku?” aku meneteskan air mata dan mencoba untuk tersenyum sambil mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh mengelilingi pemakaman Mikie.
“Aku harap kamu tenang di surga sana. Aku akan selalu mengenangmu yang pernah menjadi bagian dalam hidupku.”
Dan akhirnya, Iria pun hidup bahagia bersama Leo, seperti yang di harapkan Mikie sebelum ia menutup mata untuk selama-lamanya.


*TAMAT*








cerita awal : Ekawati
editor alur : Debby
editor naskah : Desak
@ Bahasa Indonesia X e /2010
SMAK Harapan

Andai Kemesraan Tak Mencicipi Polemik



Bagai amplop dengan lemnya. Mungkin itulah ungkapan yang cocok untuk melukiskan kemesraan antara Bahasa dan Bangsa Indonesia. Bagai burung camar yang memadu kasih, selalu mencintai dengan kasih sayang yang tiada tara. Bahasa dan Bangsa Indonesia merupakan darah yang mengalir dalam setiap warga Indonesia. Walau kaya miskin, tua muda, Batak Jawa, pria wanita, dan lain sebagainya.
Bahasa dan bangsa Indonesia mempunyai ikatan yang sangat kuat sejak puluhan tahun lamanya. Bahkan bahasa Indonesia mempunyai sejarah yang  jauh lebih panjang daripada bangsa kita tercinta ini. Bahasa Indonesia bermula dari bahasa Melayu dan diangkat menjadi bahasa Indonesia melalui Sumpah Pemuda. Kala itu bahasa Indonesia diresmikan untuk mempersatukan perbedaan suku, ras, agama, maupun bahasa. Maka timbullah semangat nasionalisme pada jiwa bangsa Indonesia untuk menunjukkan jati diri bangsa kepada dunia.
Pada abad-20 ini, bahasa asing sudah masuk dalam raga bangsa Indonesia. Sadarkah saat ini bahasa Indonesia mengalami polemik yang sangat rumit? Bahkan tak berujung pada perkembangan atas permasalahan ini. Seakan hanya jalan di tempat bahkan mungkin sudah merangkak. Setiap perubahan zaman, muncullah berbagai dampak akibat perubahan negatif yang sedikit demi sedikit mencoreng hati bahasa Indonesia. Belum lagi banyak masyarakat Indonesia belum memahami betul arti dari sebuah bahasa Indonesia. Tak sadarkah bahwa kita lahir, tumbuh, bersekolah, dan menjadi bagian dari bangsa Indonesia? Banyak yang mengaku tinggal dan tumbuh di Indonesia, tapi merasa gengsi berbicara dengan bahasa Indonesia. Sebagian besar anak muda asli Indonesia sebagai manusia yang berpendidikan malah bangga dan berlomba-lomba pamer menggunakan bahasa asing. Lantas apakah masyarakat Indonesia tidak boleh belajar bahasa asing? Lalu bagaimana dengan nasib bahasa daerah? Belajar bahasa asing atau bahasa daerah juga penting bagi kita. Belajar bahasa asing agar kita bisa berkomunikasi dengan negara luar. Begitu pula dengan belajar bahasa daerah, yaitu untuk menjaga ciri khas suatu daerah agar tidak hilang begitu saja. Tetapi sudah seharusnya kita bangga menggunakan bahasa Indonesia. Jangan hanya karena ingin gaul kita menyombongkan diri menggunakan bahasa asing. Bahasa Indonesia bukan hanya sebagai alat persatuan, tapi juga sebagai jembatan komunikasi yang baik. Bahasa Indonesia selalu berusaha menanamkan persamaan di atas perbedaan yang mencolok. Tanya saja pada pejabat tinggi Indonesia yang duduk di kursi panas. Mereka lebih banyak mengangkat dan mempergunjingkan tentang masalah korupsi, politik, ekonomi, dan sebagainya. Tak pernah sekalipun mempertanyakan nasib bahasa Indonesia kita. Mungkinkah rasa nasionalisme kita terhadap bahasa dan bangsa Indonesia benar-benar sudah tercoreng? Apakah hati kita sudah berpaling pada yang lain? Atau mungkin bahasa Indonesia tidak lagi menjadi kekasih bangsa kita? Tanda tanya besar yang ditujukan kepada setiap masyarakat Indonesia. Satu-satunya jawaban hanya ada pada hati nurani kita masing-masing.
Perlukah kita mempertahankan bahasa Indonesia? Masih pentingkah bahasa Indonesia bagi bangsa kita? Bahasa adalah yang paling baik dalam menunjukkan identitas dan ciri khas suatu bangsa. Seperti akar yang tertanam dalam tanah, begitulah bahasa Indonesia dalam benak bangsa Indonesia. Dan di atasnya berdiri ribuan masyarakatnya untuk selalu mencintai dan menjunjung tinggi bahasa Indonesia. Sama seperti anak ayam kehilangan induknya yang tidak bisa hidup sendiri. Begitu pula dengan bangsa Indonesia tidak dapat berdiri sendiri tanpa bahasa Indonesia. Atau mungkin kita bagaikan tinggal di tanah Indonesia tapi tak punya atap untuk melindungi masyarakatnya dari hujan, badai, dan panas terik matahari. Lambat laun seiring dengan berjalannya roda kehidupan yang bermain dengan zaman, maka bangsa Indonesia pun akan tenggelam bersamanya. Oleh karenanya, bangsa Indonesia bukan lagi bangsa besar yang memiliki bahasa yang unik dan beraneka ragam.
Sebagai masyarakat Indonesia yang peduli akan bangsanya, sudah menjadi keharusan untuk saling berduyun-duyun dalam memulihkan kembali bahasa kita agar lebih di cintai oleh semua lapisan masyarakat Indonesia. Salah satu caranya dengan meningkatkan rasa nasionalisme dan rasa memiliki. Jika rasa memiliki sudah tertanam dalam benak masyarakat Indonesia, maka akan timbul rasa ingin memelihara apa yang kita miliki. Tak ketinggalan, meningkatkan minat baca dan menulis adalah hal yang sangat penting. Sering-seringlah membaca buku juga belajar menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Misalnya membaca buku yang memiliki unsur ilmu pengetahuan atau dengan mencoba menulis karangan pribadi. Tanpa disadari kita sudah menerapkan bahasa yang baik dan benar. Sebagai sarana penyampaian berbagai bidang studi, media pendidikan juga berperan penting dalam menularkan bahasa yang baik dan benar. Jika semua unsur ini saling bekerjasama, tentunya cita-cita bangsa Indonesia untuk meningkatkan semangat nasionalisme pada bahasa Indonesia akan terwujud.
Kembali lagi pada pribadi kita masing-masing. Jika kita menginginkan identitas bangsa Indonesia tetap terjaga, pelihara dan tetaplah mencintai bahasa kita. Bahasa Indonesia akan selalu mesra berdampingan dengan bangsa Indonesia apabila kita sebagai masyarakat Indonesia tetap menjaga kemesraan tersebut. Kita hendaknya jangan hanya belajar bahasa luar, tetapi juga belajar bagaimana bahasa kita di kenal oleh negara luar yang patut di banggakan dalam setiap dada masyarakat Indonesia. Bisa disimpulkan, bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat persatuan dalam berbagai perbedaan, jembatan komunikasi, mempermudah interaksi setiap masyarakatnya, menunjukkan identitas suatu bangsa, dan untuk menilai perkembangan suatu bangsa melalui perkembangan bahasa di suatu negara tersebut. Jangan tunggu sampai mati kalau kehidupan masih ada. Jangan tunggu sampai nanti kalau kesempatan masih ada. Jadi tunggu apa lagi, “Selamatkan Bangsa Kita! Selamatkan Bahasa Kita!”


@Bulan Bahasa Oktober 2010