Bagai amplop dengan lemnya. Mungkin itulah ungkapan yang cocok untuk melukiskan kemesraan antara Bahasa dan Bangsa Indonesia. Bagai burung camar yang memadu kasih, selalu mencintai dengan kasih sayang yang tiada tara. Bahasa dan Bangsa Indonesia merupakan darah yang mengalir dalam setiap warga Indonesia. Walau kaya miskin, tua muda, Batak Jawa, pria wanita, dan lain sebagainya.
Bahasa dan bangsa Indonesia mempunyai ikatan yang sangat kuat sejak puluhan tahun lamanya. Bahkan bahasa Indonesia mempunyai sejarah yang jauh lebih panjang daripada bangsa kita tercinta ini. Bahasa Indonesia bermula dari bahasa Melayu dan diangkat menjadi bahasa Indonesia melalui Sumpah Pemuda. Kala itu bahasa Indonesia diresmikan untuk mempersatukan perbedaan suku, ras, agama, maupun bahasa. Maka timbullah semangat nasionalisme pada jiwa bangsa Indonesia untuk menunjukkan jati diri bangsa kepada dunia.
Pada abad-20 ini, bahasa asing sudah masuk dalam raga bangsa Indonesia. Sadarkah saat ini bahasa Indonesia mengalami polemik yang sangat rumit? Bahkan tak berujung pada perkembangan atas permasalahan ini. Seakan hanya jalan di tempat bahkan mungkin sudah merangkak. Setiap perubahan zaman, muncullah berbagai dampak akibat perubahan negatif yang sedikit demi sedikit mencoreng hati bahasa Indonesia. Belum lagi banyak masyarakat Indonesia belum memahami betul arti dari sebuah bahasa Indonesia. Tak sadarkah bahwa kita lahir, tumbuh, bersekolah, dan menjadi bagian dari bangsa Indonesia? Banyak yang mengaku tinggal dan tumbuh di Indonesia, tapi merasa gengsi berbicara dengan bahasa Indonesia. Sebagian besar anak muda asli Indonesia sebagai manusia yang berpendidikan malah bangga dan berlomba-lomba pamer menggunakan bahasa asing. Lantas apakah masyarakat Indonesia tidak boleh belajar bahasa asing? Lalu bagaimana dengan nasib bahasa daerah? Belajar bahasa asing atau bahasa daerah juga penting bagi kita. Belajar bahasa asing agar kita bisa berkomunikasi dengan negara luar. Begitu pula dengan belajar bahasa daerah, yaitu untuk menjaga ciri khas suatu daerah agar tidak hilang begitu saja. Tetapi sudah seharusnya kita bangga menggunakan bahasa Indonesia. Jangan hanya karena ingin gaul kita menyombongkan diri menggunakan bahasa asing. Bahasa Indonesia bukan hanya sebagai alat persatuan, tapi juga sebagai jembatan komunikasi yang baik. Bahasa Indonesia selalu berusaha menanamkan persamaan di atas perbedaan yang mencolok. Tanya saja pada pejabat tinggi Indonesia yang duduk di kursi panas. Mereka lebih banyak mengangkat dan mempergunjingkan tentang masalah korupsi, politik, ekonomi, dan sebagainya. Tak pernah sekalipun mempertanyakan nasib bahasa Indonesia kita. Mungkinkah rasa nasionalisme kita terhadap bahasa dan bangsa Indonesia benar-benar sudah tercoreng? Apakah hati kita sudah berpaling pada yang lain? Atau mungkin bahasa Indonesia tidak lagi menjadi kekasih bangsa kita? Tanda tanya besar yang ditujukan kepada setiap masyarakat Indonesia. Satu-satunya jawaban hanya ada pada hati nurani kita masing-masing.
Perlukah kita mempertahankan bahasa Indonesia? Masih pentingkah bahasa Indonesia bagi bangsa kita? Bahasa adalah yang paling baik dalam menunjukkan identitas dan ciri khas suatu bangsa. Seperti akar yang tertanam dalam tanah, begitulah bahasa Indonesia dalam benak bangsa Indonesia. Dan di atasnya berdiri ribuan masyarakatnya untuk selalu mencintai dan menjunjung tinggi bahasa Indonesia. Sama seperti anak ayam kehilangan induknya yang tidak bisa hidup sendiri. Begitu pula dengan bangsa Indonesia tidak dapat berdiri sendiri tanpa bahasa Indonesia. Atau mungkin kita bagaikan tinggal di tanah Indonesia tapi tak punya atap untuk melindungi masyarakatnya dari hujan, badai, dan panas terik matahari. Lambat laun seiring dengan berjalannya roda kehidupan yang bermain dengan zaman, maka bangsa Indonesia pun akan tenggelam bersamanya. Oleh karenanya, bangsa Indonesia bukan lagi bangsa besar yang memiliki bahasa yang unik dan beraneka ragam.
Sebagai masyarakat Indonesia yang peduli akan bangsanya, sudah menjadi keharusan untuk saling berduyun-duyun dalam memulihkan kembali bahasa kita agar lebih di cintai oleh semua lapisan masyarakat Indonesia. Salah satu caranya dengan meningkatkan rasa nasionalisme dan rasa memiliki. Jika rasa memiliki sudah tertanam dalam benak masyarakat Indonesia, maka akan timbul rasa ingin memelihara apa yang kita miliki. Tak ketinggalan, meningkatkan minat baca dan menulis adalah hal yang sangat penting. Sering-seringlah membaca buku juga belajar menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Misalnya membaca buku yang memiliki unsur ilmu pengetahuan atau dengan mencoba menulis karangan pribadi. Tanpa disadari kita sudah menerapkan bahasa yang baik dan benar. Sebagai sarana penyampaian berbagai bidang studi, media pendidikan juga berperan penting dalam menularkan bahasa yang baik dan benar. Jika semua unsur ini saling bekerjasama, tentunya cita-cita bangsa Indonesia untuk meningkatkan semangat nasionalisme pada bahasa Indonesia akan terwujud.
Kembali lagi pada pribadi kita masing-masing. Jika kita menginginkan identitas bangsa Indonesia tetap terjaga, pelihara dan tetaplah mencintai bahasa kita. Bahasa Indonesia akan selalu mesra berdampingan dengan bangsa Indonesia apabila kita sebagai masyarakat Indonesia tetap menjaga kemesraan tersebut. Kita hendaknya jangan hanya belajar bahasa luar, tetapi juga belajar bagaimana bahasa kita di kenal oleh negara luar yang patut di banggakan dalam setiap dada masyarakat Indonesia. Bisa disimpulkan, bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat persatuan dalam berbagai perbedaan, jembatan komunikasi, mempermudah interaksi setiap masyarakatnya, menunjukkan identitas suatu bangsa, dan untuk menilai perkembangan suatu bangsa melalui perkembangan bahasa di suatu negara tersebut. Jangan tunggu sampai mati kalau kehidupan masih ada. Jangan tunggu sampai nanti kalau kesempatan masih ada. Jadi tunggu apa lagi, “Selamatkan Bangsa Kita! Selamatkan Bahasa Kita!”
@Bulan Bahasa Oktober 2010

0 komentar:
Posting Komentar